Kenalkan, Mas Boy, eh... Dek Boy... eh Dek Brahms.
foto dari popsugar.com
Greta, cewek asal Montana yang jauh-jauh ke Inggris untuk menjadi pengasuh Dek Brahms. Kok, harus ke negara lain segala, sih? Memangnya di Amerika Serikat nggak ada lapangan pekerjaan, sampai-sampai Greta harus jadi TKAS (Tenaga Kerja Amerika Serikat)? Yaaah, selain gaji yang konon berjumlah besar, Greta rupanya punya tujuan pribadi, yaitu "bersembunyi" dari pasangannya yang KDRT.
Tiba di rumah Keluarga Heelshire, betapa kagetnya Greta mengetahui harus merawat sebuah boneka. Tapi, bukannya buru-buru kabur karena keanehan itu, Greta tetap bertahan. Begitupun ketika Ibu Heelshire membisikkan "Sorry" ketika akan berangkat berlibur. Belum lagi, masalah klasik rumah tua di semua film horor: terpencil dan tidak ada sinyal, boro-boro dapat jaringan Wi-Fi. Bayangkan, betapa tersiksanya tidak bisa update status dan upload foto selfie! Tapi, ngomong-ngomong, kalau keluarga Heelshire itu kuno dan tidak memahami teknologi, bagaimana mereka bisa menemukan Greta sebagai pengasuh? Apa dari agen? Apa Malcolm (kurir yang rutin mengantarkan barang belanjaan Keluarga Heelshire setiap minggu) yang membantu memasangkan iklan? Apa berdasarkan petunjuk dari sang boneka? Yaaah, anggap saja karena Bapak dan Ibu Heelshire sangat kaya, apapun mungkin terjadi. :-)
Logika-logika yang serba kebetulan itulah yang bertebaran sepanjang film. Pemeran Greta berakting seolah-olah ingin film itu segera berakhir. Pemeran Malcom berkarakter maunya flirty tapi kenyataannya nasty. Pengen dianggap cool ternyata kepo bin rempong. Masa iya pura-pura mampu meramal lewat bekas permen karet yang telah dikunyah? Adegan itu nggak ada romantis-romantisnya, Bro Sutradara! Jijik malah.
Formula horor yang disajikan film ini tidak ada yang mencekam, begitupun adegannya adalah berupa pengulangan yang level menakutkannya minus belaka. Suara-suara isakan, barang-barang berpindah tempat, rumah tua yang sering berderit serta hujan sepanjang masa. Penulis skenario dan sutradara sepertinya tidak mengeluarkan upaya ekstra untuk menciptakan adegan horor yang baru. Sepertinya, mereka lebih memilih untuk fokus pada kejutan di akhir film. Yang sayangnya, itupun gagal mengangkat level horor yang sudah minus tadi.
Tadi malam saya menonton film India yang berjudul Neerja. Saya tidak membaca ulasan film ini sebelum menonton. Tapi, setelahnya, karena begitu terkesan, saya mencari info tentang film Neerja dan mendapati bahwa film ini diangkat dari kisah nyata.
Neerja, seorang pramugari senior di perusahaan penerbangan Pan Am. Ketika bertugas pada penerbangan Pan Am jurusan India-Frankfurt dengan transit di Karachi. Tiba di tempat transit untuk menurunkan beberapa penumpang, tiba-tiba masuk empat teroris bersenjata yang menembak ke udara. Seluruh penumpang tentu ketakutan. Namun, Neerja terlihat tenang dan menjalani musibah itu sambil melihat-lihat apakah ada kesempatan untuk menyelamatkan penumpang. Dia dan kru pesawat lainnya melindungi penumpang Amerika yang diincar oleh teroris dengan cara yang mereka bisa. Tetap memberikan air dan makanan kepada penumpang. Lalu, dengan gagah berani mengevakuasi seluruh penumpang (yang masih hidup) meluncuri jalan keluar darurat.
Saya terpukau. Film ini tidak seperti film India yang saya tahu yang penuh nyanyian dan tarian. Ceritanya terjalin dengan apik dan tidak berlebihan. Latar belakang karakter Neerja yang kuat tak lupa dikisahkan. Bahwa, wanita itu 'terjebak' dalam kehidupan rumah tangga dengan suami yang kasar dan ringan tangan, semata-mata karena ia tidak memberikan dowry ketika menikah. Bahwa, Neerja berani memutuskan mengakhiri pernikahan tersebut. Di masa itu, tentu sulit bagi seorang wanita India memiliki prinsip idealis untuk tidak memberikan dowry, apalagi memutuskan bercerai dan menghadapi stigma masyarakat terhadap perempuan yang bercerai.
Neerja adalah perempuan yang berani. Itu, sudah pasti. Ia pun punya empati dan kasih untuk sesama. Aksi heroiknya ketika menyelamatkan penumpang Pan Am Flight 73 tanggal 5 September 1986, sangat luar biasa.
Sesuai janji saya di post sebelumnya, saya akan menuliskan kesan dan pesan setelah menonton tiga pertunjukan di Galeri Indonesia Kaya.
1. Puan Bernyanyi oleh Kamila (17 April 2016)
Kali ini, tiga perempuan cantik, -Ava, Mia, dan Ana -, yang punya suara indah dan piawai bermain biola menyajikan lagu-lagu yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi wanita terkenal Indonesia. Bukan hanya dari genre pop seperti Medley Girlband (Antara Kita-RSD, Kerinduan-ABThree, Ada Cinta-Bening, Nona Manis-Tiga Dara), melainkan juga musik dangdut. Ya, Medley Digoyang inilah yang mendapat sambutan luar biasa dari penonton. Kami ikut bernyanyi dan berjoget (goyang jempol saja sih karena susah berdiri dengan ruang gerak yang sempit, hehehe.) diiringi Sekuntum Mawar Merah (Elvi Sukaesih), Colak Colek dan Rekayasa Cinta (keduanya dari Camelia Malik).
Kejutan tidak berhenti. Trio yang penampilannya malam itu turut didukung oleh band En The Brey En The Skrey (kalau salah penulisan, maaf ya) menyajikan Medley Kasihan, berupa lagu-lagu yang mendengarnya saja kita akan berempati, "Kasihan, ya?" Hehehe.... Tentu kalian sudah membayangkan lagu apa saja yang termasuk di dalamnya. Ya, satu di antaranya sudah pasti Hati Yang Luka (Betharia Sonata).
Kesan: Bravo. Bravo. Bravo. Pesan: Iringan band sore itu terlalu mendominasi yang kadang-kadang menenggelamkan keindahan vokal dan permainan biola trio Kamila. Pada segmen rock, aransemen itu terdengar luar biasa. Namun, untuk bagian yang lainnya sempat mengaburkan pesona trio Kamila itu sendiri. Dari sisi ini, semoga bisa lebih ditingkatkan lagi ke depannya.
2. Kartini Jazz (24 April 2016)
"Apa kalian bersenang-senang hari ini?" begitu pertanyaan Mian Tiara di sela-sela pertunjukan. Saya tidak tega meneriakkan, "Tidaaak."
Saya tahu Mian Tiara adalah musisi yang hebat serta penulis lirik yang kreatif. Tapi, saya tidak melihat kehebatan musisi ini pada pertunjukan malam itu. Ketika bernyanyi, banyak nada yang terpleset dan salah masuk lagu. Pemilihan lagu-lagu yang ditampilkan tidak luar biasa. Aransemennya pun tidak begitu berubah sehingga setidaknya akan mampu membuat penonton terhenyak dengan keunikannya. Itupun tidak. Sama sekali tidak. Kemampuan berinteraksi kepada penonton pun kurang bagus, kalau tidak bisa dibilang menyedihkan. Seharusnya, jika memang tidak piawai berkomunikasi dari atas panggung, mungkin lain kali bisa menambahkan seorang MC untuk menemani pada saat pergantian segmen. Ditambah pengiring band yang memaksakan wanita. Maaf, jika saya beropini demikian karena saya tidak melihat permainan musik yang enerjik dan penuh semangat. Dibandingkan En The Brey and The Skrey pada minggu lalu sangat sangat enerjik dan bersemangat, pengiring band sore itu (yang kebetulan semuanya berjenis kelamin perempuan) terlihat letih dan loyo. Energi malas itu mungkin tertular kepada penonton, termasuk saya. Oleh sebab itu, terbetik penasaran, "Apakah demi semua penampil berjenis kelamin perempuan, maka pengiring band tersebutlah yang diajak atau terpilih?"
Pertunjukan baru terlihat sedikit menarik ketika lagu Tubuhku Otoritasku dilantunkan. Sayangnya, selain penonton sudah terlalu masa bodo, lagu tersebut juga ternyata adalah lagu terakhir yang dibawakan oleh Mian Tiara.
Di agenda Indonesia Kaya, judul pertunjukan sore itu adalah Kartini Jazz oleh Lea Simanjuntak dan Mian Tiara. Dalam pikiran saya, kedua musisi wanita tersebut akan memiliki porsi tampil yang sama. Kenyataannya, Lea Simanjuntak hanya menyanyikan dua lagu (plus satu encore)! Penonton baru terlihat antusias ketika Lea muncul di panggung. Tapi, sayang sekali kemeriahan itu langsung berakhir secepat kilat.
Kesan: Berharap Terlalu Tinggi. Melihat judul acara, saya pikir akan menyaksikan suatu pertunjukan yang mewah dan meriah. Lea Simanjuntak dan Mian Tiara akan berganti-gantian menghibur penonton. Mungkin akan ada duet dan atau tek-tokan alias nge-jam ala jazz antara kedua musisi tersebut. Kenyataannya, harapan saya sebelumnya terlalu tinggi. Pesan: Nice try. Semangat!
3. Bawang Merah Bawang Putih oleh Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih bersama Fitri Tropica (30 April 2016)
Kelompok sandiwara ini memang sudah terkenal dari dulu. Jadi, ketika melihat agenda Galeri Indonesia Kaya, akan ada pertunjukan dari mereka, cepat-cepat saya reservasi.
Berbeda dari minggu sebelumnya yang mana harapan tinggi saya yang melambung tinggi ternyata terhempas manja, sore ini sebaliknya. Tadinya, saya pikir penyematan nama Fitri Tropica dalam buku acara hanya sebagai bintang tamu dengan porsi tampil yang seadanya. Rupanya, selebriti itu tampil dari awal sampai akhir. Bahkan, penampilan Fitrop di panggung tampak seperti pengatur alur dan komandan pertunjukan sore itu.
Berperan sebagai Bawang Putih, grand entrance Fitri Tropika membuat penonton terpingkal-pingkal. Begitupun celetukannya yang penuh humor. Dalam setiap adegan yang ada aktris tersebut, adegan terasa segar dan menarik perhatian. Apalagi ketika "bercengkerama" dengan Mamih, seolah-olah memang Fitri Tropica dan Mamih adalah ibu dan anak yang sebenarnya, hehehe. Selain dari mereka berdua, bagus, juga, sih, tapi tidak mengesankan. Terutama, peran Pangeran yang dibilang charming nggak, disebut berkharisma juga nggak, apalagi disebut bodor dan konyol. Datar saja. Padahal, kalau tokoh Pangeran digarap lebih baik lagi, sandiwara sore itu pasti bisa lebih pecah.
Kesan: Saya datang menonton dalam keadaan lapar karena belum makan dari pagi. Nah, menonton pertunjukan ini sampai selesai, ajaib rasa lapar saya hilang seketika. Bisa jadi obat diet, nih. :-D Pesan: Memang di jadwal disebutkan bahwa pertunjukan ini adalah BO (Bimbingan Orangtua). Tapi, menyaksikan adegan-adegan yang menjurus dewasa (yang disajikan oleh Kucing Garong dan Kucing Manis) dan ada penonton-penonton kecil di bagian terdepan, rasanya khawatir juga. Semoga saja, orangtuanya mampu membimbing dengan benar kalau ada pertanyaan dari si kecilnya, ya. Untuk yang berwenang, jika dirasa bakal ada anak kecil yang menonton, sebaiknya adegan menjurus dewasa diganti saja atau untuk penyelenggara bisa mengubah kategori penonton yang boleh menyaksikan pertunjukan.
Selanjutnya, ada apa lagi ya di Galeri Indonesia Kaya. Yuk, cek langsung ke Indonesia Kaya.
Saya kecanduan! Ya, kecanduan datang ke Galeri Indonesia Kaya. Sebenarnya, dari awal tahun saya ingin sekali mengunjungi galeri budaya Indonesia yang beralamat di Grand Indonesia ini. Tapi, selalu saja saya lupa, tidak punya waktu karena sedang sibuk, dan alasan lainnya yang sejujurnya diada-adakan saja. Hehehe.
Akhirnya minggu lalu saya bisa menjejakkan kaki ke tempat ini. Aksesnya gampang. Naik bus TransJakarta dari mana saja, turun di halte Tosari. Kalau menggunakan kereta Commuter Line, turun di Stadiun Sudirman (Dukuh Atas). Kemudian, melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Jangan keburu malas dulu. Jaraknya dekat, kok. Setidaknya menurut saya. Hehehe.
Masuk ke Grand Indonesia West Mall, GIK terletak persis di samping sinema Blitz Megaplex di lantai delapan. Dan, sapaan "Selamat Datang" dari berbagai bahasa suku-suku di Indonesia menyambut kedatangan kita. Lalu ada pengenalan alat musik tradisional yang interaktif dan kita bisa memainkan alunan nada-nada hanya dengan menyentuh layarnya. Yang paling menarik menurut saya adalah Arungi Indonesia. Serasa terbang mengelilingi dan mengunjungi Indonesia. Bagi yang narsis pasti suka Selaras Pakaian Adat. Berfoto pakaian adat digital dan langsung mengunggahnya ke media sosial. Lucu banget, kan?
Favorit saya adalah berbagai pertunjukan yang ditampilkan di sini. Ya, hampir setiap hari adaaa saja kegiatan budaya yang rata-rata bisa kita saksikan gratis. Minggu lalu saya menyaksikan pertunjukan tari "Rang Rumah" yang mungkin akan saya ceritakan secara terpisah. Besok, saya akan menonton musik jazz "Puan Bernyanyi". Minggu depan, nonton apa lagi ya? Yuk, langsung cek jadwalnya dan reservasi.
Pertama kali mengunjungi kafe ini ketika mereka launching kira-kira akhir tahun lalu. Waktu itu, saya memilih bagian indoor yang terlihat nyaman dan cozy dan terang dengan sofa-sofa empuk, wangi, pendingin ruangan, dan tentunya bebas dari asap rokok. Karena niatnya untuk ngopi, pesanan saya dan seorang teman ketika itu tentu saja kopi. Saya menyukai coffee blend dengan campuran orange yang saya pesan. Sangat dingin. Benar-benar blend. Terkesan dengan pelayanan super ramah dan rasa coffee blend yang pas, saya datang lagi kira-kira seminggu kemudian. Namun, tidak untuk makan di restorannya, tetapi membawa pulang pesanan.
Hari ini, baru saya datang lagi ke sana. Niatnya hanya memesan Tom Yam. Betapa kagetnya saya ketika membuka pintu untuk masuk ke bagian indoor, oh la la bau apek asap rokok bercampur AC langsung menyergap. Ruangan indoor yang dulu penuh sofa-sofa empuk masih sama. Tapi, tidak lagi nyaman tidak lagi wangi. Baunya memuakkan. Beberapa om-om berwajah Arab menikmati shisha. Dan ada, cewek-cewek Arab di pangkuan Om-om itu. Langsung pengin muntah. Seketika itu saya keluar.
Terlanjur pesan, ya sudah akhirnya duduk di luar saja. Dasar hari saya lagi apes, tiba-tiba pelayan membuka pintu indoor lebar-lebar, sehingga bau apek memuakkan yang berpusat di bagian indoor tadi tercium sampai ke bagian luar ruangan. Masih saya sabar-sabarin menunggu pesanan.
Hore, pesanan Tom Yam akhirnya datang. Tapi eh tapi baru menyuap sesendok, rasanya luar biasa asiiiiin seperti makanan Mpok Juwi yang minta dikawinin Abang Jampang. Akhirnya, saya minta Tom Yam itu dibungkus saja dan menambah pesanan milkshake untuk menetralisir asin yang terkadung menempel di lidah saya. Keduanya untuk dibawa pulang.
Pelayan yang saya minta tolong untuk membungkus makanan itu sangat tidak ramah. Apalagi ternyata dia bertugas untuk membakar shisha shisha di bagian depan kafe. Jadi, saya semakin jijik. Terbayang tangan yang sehabis menyentuh shisha itu kemudian memegang makanan dan minuman pesanan orang lain. Dan, di atas semua itu, pesanan milkshake yang minta dibawa pulang, malah disajikan dalam gelas. Pelayan yang sudah tidak ramah ternyata super tolol. Benar-benar hebat.
Di awal sebenarnya, saya sangat terkesan dengan baristanya yang keramahannya sangat jempol menurut saya. Sekelas dengan teman-teman Filosofi Kopi yang sampai saat ini selalu saya datangi seminggu sekali. Tapi, ternyata true color sang barista tidak seperti itu. Jadi, saya yang ingin buru-buru pergi dari tempat itu langsung ke kasir untuk membayar. Ternyata oh ternyata, petugas kasirnya adalah barista tersebut. Dan barista itu menyuruh saya menunggu karena dia masih sibuk. Oh, ya, posisi kasir adalah di bagian indoor yang penuh dengan shisha-shisha itu. Jadi, rasakan penderitaan saya yang sangat tidak menyukai asap rokok dan teman-temannya itu ketika disuruh menunggu lebih lama untuk membayar.
Tapi, ya sudah. Saya tahan-tahan saja. Eh, ketika akhirnya dia datang. Saya bilang saya tidak akan ke sini lagi karena pelayanannya menyebalkan. Dan saya minta milkshake dibawa pulang kenapa datang pakai gelas? Di mana-mana, setiap industri saja akan menjawab PERMOHONAN MAAF terlebih dahulu. Tapi, tidak. Si barista diam saja. Sibuk menghitung pesanan. Eh, begitu perhitungan sudah keluar, ternyata oh ternyata, minuman saya di-charge dua kali! Saya makin bete dan langsung bilang, "Itu dua kali!" Eh, sang barista nyolot kalau memang segitu kan saya pesan minumnya dua kali. Saya pandangi saja barista tolol itu dengan pandangan membunuh dan menyebutnya TOLOL. Akhirnya, dia sadar kalau salah memasukkan dua kali minuman. Dia pun kembalikan uang saya dengan benar.
Berhubung dia kasir sekaligus barista, dia juga yang memindahkan milkshake ke wadah untuk dibawa pulang. Saya tidak tahan menunggu lagi di bagian indoor yang penuh om-om Arab memangku cewek-cewek Arab menghembuskan shisha yang super bau itu, jadi saya menunggu di luar. Tapi, dari pintu saya perhatikan bagaimana mereka mengerjakan milkshake tersebut? Jangan sampai ada adegan meludahi. Bukan apa-apa, dari awal sampai akhir yang tidak ada PERMOHONAN MAAF sama sekali dari barista dan pelayan, tentu karena pikiran mereka penuh niat jahat lain buat minuman itu. Sayangnya, saya tidak mendapat pemandangan jelas yang membuat saya yakin apakah minuman itu memang benar-benar bersih dari dikerjai atau tidak. Akhirnya, milkshake pesanan saya itu saya berikan pada tukang bajaj yang kebetulan papasan di jalan.
Sayang sekali, Coffee Lamer. Sekarang kamu masuk daftar Banned for Life-nya saya. Di mana kafe/resto enak dan nyaman yang saya datangi saat grand launching? Yang pelayan/baristanya super ramah, kasual, dan kekinian? Sekarang justru bertampang jutek, kaku, dan tidak sopan dan tidak ramah. Mana tempat duduk indoor yang adem, nyaman, dan wangi itu? Berganti dipenuhi om-om Arab pangku-pangkuan dengan cewek-cewek Arab dengan cahaya remang-remang dan hembusan asap rokok dan shisha dengan gempuran pendingin udara.
Ternyata, benar kalau ada yang bilang nama adalah doa. Coffee Lamer mengambil nama Lampu Merah, media yang terkenal dengan tajuk utamanya yang vulgar. Oleh sebab itu, benar juga kalau Coffee Lamer dipenuhi om-om yang pangku-pangkuan dengan cewek-cewek rok mini dan menghembuskan shisha. Mungkin kafe itu berniat menciptakan headline vulgar mereka sendiri!
Adele kembali! Setelah menelurkan album "patah hati (21)" empat tahun lalu, penyanyi asal Inggris tersebut merilis album terbarunya, 25, akhir bulan November ini. Tapi, Adele sudah menayangkan satu lagu sebagai pengobat kerinduan penggemarnya. Hello. Dengerin, deh.
Siapa yang langsung teringat mantan sewaktu mendengar rintihan Halo dari Mbak Adele ini? Hayo, ngacung! Aduuuh, mantan lagi, mantan lagi! Kenapa sih sosoknya selalu membayang dalam ingatan dan memunculkan kembali kenangan indah bersamanya? Tenang, saya punya delapan cara menghilangkan pesona sang mantan dari pikiranmu. Sst, kamu yang tadinya nggak mau ngaku dan menyembunyikan telunjuknya di balik punggung, masih boleh, kok, menyimak.
1. Kamu perlu niat dan komitmen (untuk melupakan mantan) yang kuat. Pertarungan menghapus keberadaannya dari ingatan kamu lebih berat ketimbang ujian masuk universitas favorit. Lebih menguras tenaga ketimbang menggali sumur 88 meter. Jadi, hal paling mendasar yang perlu kamu lakukan adalah memiliki niat yang sungguh-sungguh. Jadi, kalau ditanyakan "Apakah kamu yakin ingin melupakannya?" Kamu harus menjawab, "I do" sambil membayangkan wajahnya yang paling jelek atau kelakuannya yang paling menyebalkan.
2. Berhenti mendengarkan lagu-lagu yang bertema mantan! Resapi, deh, lagu si Mbak di atas. Dijamin langsung teringat mantan bahkan buat yang nggak punya mantan sekalipun (puk puk buat jamaah jombloiyah). Musik dan suara Adele di lagu-lagunya memang sangat berkualitas sampai-sampai kita ikut-ikutan berempati dengan cerita patah hati si Mbak di album terdahulunya sampai single di atas. Tapi, capek juga, kan, kalau kamu langsung mewek-mewek sewaktu mendengar lagu-lagu bertema mantan ini. Pokoknya, hindari, deh. Kalau lagi di mal dan kebetulan DJ department store-nya memutarkan lagu Hello si Mbak, lebih baik kamu langsung naik kereta mainan yang sering berseliweran di mal. Siapa tahu ke Bandung Surabaya, boleh naik dengan percuma?
mainanfiberglass.com
3. Singkirkan semua benda kenangan kalian. Sayang, tahu. Ini, kan, potongan tiket nonton wayang ludruk waktu date pertama kami? Wah, kalau ada yang bereaksi seperti itu, mending balik lagi ke poin nomor 1, deh. Karena itu artinya kamu nggak benar-benar niat melupakan mantan. Mestinya gimana, dong? Singkirkan saja semua benda kenangan kalian, mau itu kaos couple atau kalung hadiah sekalipun. Ya, sayang, dong kan kalungnya mahal? Singkirkan bukan berarti dibuang. Kamu pilah-pilih dulu mana barang yang harus dikembalikan, dibuang, disumbangkan, atau dijual. Ada yang menganggap perhiasan (apalagi kalau merupakan warisan keluarga) dan sejenisnya sebaiknya dikembalikan, tapi ada juga yang beranggapan tidak perlu karena itu toh sudah menjadi hadiah untuk kamu. Lalu, bagaimana cara kamu menyeleksinya? Ikuti kata hati saja! Kalau hati kecilmu merasa tidak enak menyimpan barang itu, silakan kembalikan, buang, disumbangkan, atau dijual. Kok nggak ada pilihan "disimpan di dalam kotak kardus kenangan", sih? Aduuuh, kalau masih menanyakan itu, mending kembali ke pasal nomor satu, deh.
4. Minta mantan memelihara anjing penjaga galak. Kalau kamu masih bisa berkomunikasi dengannya, minta dia mengadopsi anjing penjaga plus pemburu baru yang supergalak terhadap orang asing. Gunanya, kalau kamu punya hasrat kepo dengan sok-sokan lewat depan rumahnya dan mengintip kegiatannya dari balik pagar, si anjing penjaga itu akan langsung menguber-uber kamu. Besok-besok, kamu pasti akan melupakan hasrat melihat-senyum-dan-tatapannya-untuk-yang-terakhiiir-kaliii-aja.
5. Ganti nomor dan akun media sosialmu lalu hapus juga akunnya. Nah, kalau tip sebelumnya sudah dilakukan, baru deh laksanakan langkah yang ini. Di handphone, tablet, netbook, sampai laptop kamu pasti masih terendus jejak sang mantan, baik itu nomor teleponnya, foto-foto selfie atau lagu yang ia nyanyikan saat sedang menggombalimu. Hapus semuanya. Nomor teleponnya, akun media sosialnya, bila perlu sampai akun media sosialmu dinon-aktifkan saja. Bersihkan daftar history dari komputer atau laptopmu. Karena kita tidak bisa memercayaimu untuk benar-benar melakukan langkah ini, saya sarankan agar teman kamu menjadi pengawas supaya kamu tidak curang.
6. Masih stalking akun media sosialnya? Nggak apa-apa, kok. Apa? Kamu langsung menarikan tarian Hula-Hula membaca saran ini. Ya mau bagaimana lagi? Menguntit update status mantan bisa menjadi salah satu kecanduan yang tertanam di otak kita. Cuma, yang namanya kecanduan itu, kan, nggak baik, ya? Makanya, kamu harus siapkan pula rem agar kebiasaan itu nggak merusak kehidupan kamu pascaputus dengannya. Selayaknya orang yang kecanduan, kurangilah sebanyak demi sebanyak dosis stalking akun media sosial pacarmu itu. Kalau di hari pertama, kamu menghabiskan waktu delapan jam mengintip Facebook-nya, di hari kedua coba hanya tiga jam saja. Sst, kamu yang mengikuti langkah kelima (menghapus akunnya), kemungkinan besar tidak bisa stalking gara-gara akun sang mantan dikunci privasi. Untung banget, ya. Jadi, hasrat kepo bisa diredam. Bagi yang curang di langkah kelima, sih, hati-hati saja jangan sampai baper (terbawa perasaan) atau merasa terluka melihat Twitternya mensyen-mensyenan
mesra dengan orang lain.
7. Cari rebound? Jangan, ah. Banyak yang bilang cara cepat melupakan mantan, ya dengan mencari yang baru. Apa iya? Emosi kamu saja masih naik turun bak roller coaster, masa iya kamu mau menyambar orang lain saat roller coaster masih melaju? Yang ada kalau nggak kamu yang terseret jatuh atau sang rebound yang bersimbah darah. Intinya, hubungan semacam ini lebih banyak memunculkan luka dan sakit hati ketimbang bahagianya. Pikirkan juga seandainya kamu adalah si rebound dan akhirnya tahu kalau dijadikan pelarian saja, pasti rasanya sangat sangat nggak enak. Nggak adil lho kalau kita mencoba mengatasi kesedihan kita dengan membuat orang lain sedih. Dan, ingat-ingat deh, sesuatu yang didasari dengan niat yang nggak baik, biasanya hasilnya juga mengecewakan.
8. Bergerak aktif. Jika ada yang menyangsikan kebahagiaan tidak bisa dicapai dengan menikmati waktu sendirian, mereka pasti nggak pernah bergerak aktif. Saat berolah raga, tubuh kita akan memicu hormon endorfin, hormon yang disebut-sebut salah satu pencetus kebahagiaan. Jadi, ketimbang menangis semalam atau berdandan lalu selfie cuma untuk menunjukkan sang mantan, "Hey, aku cantik nih", lebih baik pakai sepatu dan lari ke mana saja (hindari sepanjang jalan kenangan kalau itu membuatmu mewek seharian). Pilih saja kegiatan yang memerlukan gerak aktif favoritmu! Jadi, buang jauh-jauh opsi mendengarkan musik (apalagi lagu cinta kenangan) atau menonton film drama romantis memilukan atau membaca novel cinta mengharukan. Sebaliknya, daftar klub kebugaran atau sambangi kolam renang dekat rumah kamu. Semakin kamu aktif, semakin kamu nggak punya waktu kosong untuk memikirkan atau melamunkan kenangan-kenangan bersama mantan. Lambat laun, dia pun memudar sedangkan kamu sibuk dengan bergaul dengan teman-teman baru dari kegiatan aktifmu yang baru. Sst, ketika kamu sudah siap untuk membuka hati, siapa tahu kekasih sejati kamu ternyata ada di antara mereka?
Peringatan: Jika kamu belum menonton filmnya, sebaiknya berhenti, karena tulisan ini mengandung spoiler.
Sudah sejak lama saya ingin menonton film animasi yang berasal dari kreator yang sama dengan film Up tersebut. Tapi, karena kesibukan, baru kesampaian akhir-akhir ini. Film ini mengisahkan kesibukan Joy, Anger, Fear, Disgust, dan Sadness dalam mengelola emosi dan perasaan seorang anak perempuan bernama Riley. Joy menjadi semacam pemimpin bagi perasaan-perasaan yang lain. Tak heran, kalau ekspresi senang itu lebih memilih membentuk Riley menjadi pribadi yang bahagia. Setiap emosi negatif menyeruak di kepala Riley, Joy akan mencari cara agar perasaan itu berganti dengan kegembiraan semata. Dengan konsep #teamhappy ini, tak ada tempat bagi Sadness. Joy bahkan menciptakan lingkaran kecil "Sadness' Circle" agar emosi yang dianggap tidak berguna itu tetap berada di lingkaran itu sehingga tidak mengganggu misi #teamhappy. Akan tetapi, Sadness punya rasa ingin tahu yang besar. Ia memegang bongkahan memori inti dan mengakibatkan memori itu berubah warna menjadi biru yang melambangkan kesedihan. Joy yang tak rela Riley menyimpan memori kesedihan pun mencegahnya. Namun, emosi yang selalu ceria itu justru tersedot keluar dari markas besar bersama dengan Sadness. Dimulailah petualangan Joy dan Sadness untuk mencari jalan pulang.
Berapa orang di sini yang menginginkan perasaan "Selalu Bahagia"? Dijahati teman, cukup dijawab "It's okay. Aku tetap bahagia!" Kehilangan uang, "Ah, itu berarti aku akan dapat gantinya seribu kali lipat!" Apapun kondisinya, selalu tersenyum, selalu ceria. Selalu Bahagia!
Saya tidak seperti itu. Saya marah ketika mendapati orang merokok di tempat umum dan meracuni kaum bukan perokok. Saya menggerutu kepada mereka yang membuang sampah sembarangan. Saya sedih jika cerpen yang saya kirimkan untuk lomba, boro-boro menang, dilirik pun rasa-rasanya tidak. Saya berdebar ketakutan tatkala harus berbicara di depan umum. Saya jijik dengan jengkol dan petai. Dan sering sekali saya membiarkan emosi-emosi (yang dianggap negatif itu) mengambil alih. Tidak ditutupi. Tidak disembunyikan. Bahkan, suatu kali saya pernah diejek sebagai si penggerutu. Hahaha.
Sungguh berbeda dengan misi Joy dalam kepala Riley: apapun yang terjadi, harus happy happy joy joy. Namun, dalam petualangannya mencari jalan pulang bersama Sadness, Joy justru belajar bahwa emosi kesedihan itu pun ada manfaatnya. Tak jarang, ekspresi gembira yang ada di memori inti Riley justru didapatkan karena kemunculan Sadness. Contohnya, Joy hanya mengingat kegembiraan Riley dipeluk Mom dan Dad serta diangkat dan dielu-elukan oleh teman-teman grup hoki Riley. Padahal, di hari itu tim hoki Riley justru kalah. Sadness mengingat kekalahan itu sebagai hari yang paling menyenangkan. Ketika Riley bersedih, Mom dan Dad menghibur begitu pula teman-teman Riley sehingga akhirnya memori bahagia pun tercipta.
Menonton film ini, membuat saya senang. Akhirnya saya ada pendukungnya. Tak semuanya harus happy happy joy joy. Tak perlu menunjukkan "Selalu Bahagia" dan menumpuk emosi (yang dianggap negatif) lainnya di gudang emosi. Semua perasaan yang tercipta pada diri kita ada manfaatnya. Bahkan kesedihan sekalipun. Dari emosi (yang dianggap negatif itu), kita bisa mengambil pelajaran, menyurahkannya demi melegakan sesak di dada, sampai jadi pondasi kita untuk bangkit kembali menata hidup. Karena, berkat keberadaan kesedihan itulah kita tahu arti bahagia.