Pertama kali mengunjungi kafe ini ketika mereka launching kira-kira akhir tahun lalu. Waktu itu, saya memilih bagian indoor yang terlihat nyaman dan cozy dan terang dengan sofa-sofa empuk, wangi, pendingin ruangan, dan tentunya bebas dari asap rokok. Karena niatnya untuk ngopi, pesanan saya dan seorang teman ketika itu tentu saja kopi. Saya menyukai coffee blend dengan campuran orange yang saya pesan. Sangat dingin. Benar-benar blend. Terkesan dengan pelayanan super ramah dan rasa coffee blend yang pas, saya datang lagi kira-kira seminggu kemudian. Namun, tidak untuk makan di restorannya, tetapi membawa pulang pesanan.
Hari ini, baru saya datang lagi ke sana. Niatnya hanya memesan Tom Yam. Betapa kagetnya saya ketika membuka pintu untuk masuk ke bagian indoor, oh la la bau apek asap rokok bercampur AC langsung menyergap. Ruangan indoor yang dulu penuh sofa-sofa empuk masih sama. Tapi, tidak lagi nyaman tidak lagi wangi. Baunya memuakkan. Beberapa om-om berwajah Arab menikmati shisha. Dan ada, cewek-cewek Arab di pangkuan Om-om itu. Langsung pengin muntah. Seketika itu saya keluar.
Terlanjur pesan, ya sudah akhirnya duduk di luar saja. Dasar hari saya lagi apes, tiba-tiba pelayan membuka pintu indoor lebar-lebar, sehingga bau apek memuakkan yang berpusat di bagian indoor tadi tercium sampai ke bagian luar ruangan. Masih saya sabar-sabarin menunggu pesanan.
Hore, pesanan Tom Yam akhirnya datang. Tapi eh tapi baru menyuap sesendok, rasanya luar biasa asiiiiin seperti makanan Mpok Juwi yang minta dikawinin Abang Jampang. Akhirnya, saya minta Tom Yam itu dibungkus saja dan menambah pesanan milkshake untuk menetralisir asin yang terkadung menempel di lidah saya. Keduanya untuk dibawa pulang.
Pelayan yang saya minta tolong untuk membungkus makanan itu sangat tidak ramah. Apalagi ternyata dia bertugas untuk membakar shisha shisha di bagian depan kafe. Jadi, saya semakin jijik. Terbayang tangan yang sehabis menyentuh shisha itu kemudian memegang makanan dan minuman pesanan orang lain. Dan, di atas semua itu, pesanan milkshake yang minta dibawa pulang, malah disajikan dalam gelas. Pelayan yang sudah tidak ramah ternyata super tolol. Benar-benar hebat.
Di awal sebenarnya, saya sangat terkesan dengan baristanya yang keramahannya sangat jempol menurut saya. Sekelas dengan teman-teman Filosofi Kopi yang sampai saat ini selalu saya datangi seminggu sekali. Tapi, ternyata true color sang barista tidak seperti itu. Jadi, saya yang ingin buru-buru pergi dari tempat itu langsung ke kasir untuk membayar. Ternyata oh ternyata, petugas kasirnya adalah barista tersebut. Dan barista itu menyuruh saya menunggu karena dia masih sibuk. Oh, ya, posisi kasir adalah di bagian indoor yang penuh dengan shisha-shisha itu. Jadi, rasakan penderitaan saya yang sangat tidak menyukai asap rokok dan teman-temannya itu ketika disuruh menunggu lebih lama untuk membayar.
Tapi, ya sudah. Saya tahan-tahan saja. Eh, ketika akhirnya dia datang. Saya bilang saya tidak akan ke sini lagi karena pelayanannya menyebalkan. Dan saya minta milkshake dibawa pulang kenapa datang pakai gelas? Di mana-mana, setiap industri saja akan menjawab PERMOHONAN MAAF terlebih dahulu. Tapi, tidak. Si barista diam saja. Sibuk menghitung pesanan. Eh, begitu perhitungan sudah keluar, ternyata oh ternyata, minuman saya di-charge dua kali! Saya makin bete dan langsung bilang, "Itu dua kali!" Eh, sang barista nyolot kalau memang segitu kan saya pesan minumnya dua kali. Saya pandangi saja barista tolol itu dengan pandangan membunuh dan menyebutnya TOLOL. Akhirnya, dia sadar kalau salah memasukkan dua kali minuman. Dia pun kembalikan uang saya dengan benar.
Berhubung dia kasir sekaligus barista, dia juga yang memindahkan milkshake ke wadah untuk dibawa pulang. Saya tidak tahan menunggu lagi di bagian indoor yang penuh om-om Arab memangku cewek-cewek Arab menghembuskan shisha yang super bau itu, jadi saya menunggu di luar. Tapi, dari pintu saya perhatikan bagaimana mereka mengerjakan milkshake tersebut? Jangan sampai ada adegan meludahi. Bukan apa-apa, dari awal sampai akhir yang tidak ada PERMOHONAN MAAF sama sekali dari barista dan pelayan, tentu karena pikiran mereka penuh niat jahat lain buat minuman itu. Sayangnya, saya tidak mendapat pemandangan jelas yang membuat saya yakin apakah minuman itu memang benar-benar bersih dari dikerjai atau tidak. Akhirnya, milkshake pesanan saya itu saya berikan pada tukang bajaj yang kebetulan papasan di jalan.
Sayang sekali, Coffee Lamer. Sekarang kamu masuk daftar Banned for Life-nya saya. Di mana kafe/resto enak dan nyaman yang saya datangi saat grand launching? Yang pelayan/baristanya super ramah, kasual, dan kekinian? Sekarang justru bertampang jutek, kaku, dan tidak sopan dan tidak ramah. Mana tempat duduk indoor yang adem, nyaman, dan wangi itu? Berganti dipenuhi om-om Arab pangku-pangkuan dengan cewek-cewek Arab dengan cahaya remang-remang dan hembusan asap rokok dan shisha dengan gempuran pendingin udara.
Ternyata, benar kalau ada yang bilang nama adalah doa. Coffee Lamer mengambil nama Lampu Merah, media yang terkenal dengan tajuk utamanya yang vulgar. Oleh sebab itu, benar juga kalau Coffee Lamer dipenuhi om-om yang pangku-pangkuan dengan cewek-cewek rok mini dan menghembuskan shisha. Mungkin kafe itu berniat menciptakan headline vulgar mereka sendiri!
Banned For Life: Coffee Lamer
Posted by aksaralava at 9:24 PM 0 comments
8 Cara Cepat Melupakan Mantan
Adele kembali! Setelah menelurkan album "patah hati (21)" empat tahun lalu, penyanyi asal Inggris tersebut merilis album terbarunya, 25, akhir bulan November ini. Tapi, Adele sudah menayangkan satu lagu sebagai pengobat kerinduan penggemarnya. Hello. Dengerin, deh.
Siapa yang langsung teringat mantan sewaktu mendengar rintihan Halo dari Mbak Adele ini? Hayo, ngacung! Aduuuh, mantan lagi, mantan lagi! Kenapa sih sosoknya selalu membayang dalam ingatan dan memunculkan kembali kenangan indah bersamanya? Tenang, saya punya delapan cara menghilangkan pesona sang mantan dari pikiranmu. Sst, kamu yang tadinya nggak mau ngaku dan menyembunyikan telunjuknya di balik punggung, masih boleh, kok, menyimak.
1. Kamu perlu niat dan komitmen (untuk melupakan mantan) yang kuat. Pertarungan menghapus keberadaannya dari ingatan kamu lebih berat ketimbang ujian masuk universitas favorit. Lebih menguras tenaga ketimbang menggali sumur 88 meter. Jadi, hal paling mendasar yang perlu kamu lakukan adalah memiliki niat yang sungguh-sungguh. Jadi, kalau ditanyakan "Apakah kamu yakin ingin melupakannya?" Kamu harus menjawab, "I do" sambil membayangkan wajahnya yang paling jelek atau kelakuannya yang paling menyebalkan.
2. Berhenti mendengarkan lagu-lagu yang bertema mantan! Resapi, deh, lagu si Mbak di atas. Dijamin langsung teringat mantan bahkan buat yang nggak punya mantan sekalipun (puk puk buat jamaah jombloiyah). Musik dan suara Adele di lagu-lagunya memang sangat berkualitas sampai-sampai kita ikut-ikutan berempati dengan cerita patah hati si Mbak di album terdahulunya sampai single di atas. Tapi, capek juga, kan, kalau kamu langsung mewek-mewek sewaktu mendengar lagu-lagu bertema mantan ini. Pokoknya, hindari, deh. Kalau lagi di mal dan kebetulan DJ department store-nya memutarkan lagu Hello si Mbak, lebih baik kamu langsung naik kereta mainan yang sering berseliweran di mal. Siapa tahu ke Bandung Surabaya, boleh naik dengan percuma?
| mainanfiberglass.com |
4. Minta mantan memelihara anjing penjaga galak. Kalau kamu masih bisa berkomunikasi dengannya, minta dia mengadopsi anjing penjaga plus pemburu baru yang supergalak terhadap orang asing. Gunanya, kalau kamu punya hasrat kepo dengan sok-sokan lewat depan rumahnya dan mengintip kegiatannya dari balik pagar, si anjing penjaga itu akan langsung menguber-uber kamu. Besok-besok, kamu pasti akan melupakan hasrat melihat-senyum-dan-tatapannya-untuk-yang-terakhiiir-kaliii-aja.
5. Ganti nomor dan akun media sosialmu lalu hapus juga akunnya. Nah, kalau tip sebelumnya sudah dilakukan, baru deh laksanakan langkah yang ini. Di handphone, tablet, netbook, sampai laptop kamu pasti masih terendus jejak sang mantan, baik itu nomor teleponnya, foto-foto selfie atau lagu yang ia nyanyikan saat sedang menggombalimu. Hapus semuanya. Nomor teleponnya, akun media sosialnya, bila perlu sampai akun media sosialmu dinon-aktifkan saja. Bersihkan daftar history dari komputer atau laptopmu. Karena kita tidak bisa memercayaimu untuk benar-benar melakukan langkah ini, saya sarankan agar teman kamu menjadi pengawas supaya kamu tidak curang.
6. Masih stalking akun media sosialnya? Nggak apa-apa, kok. Apa? Kamu langsung menarikan tarian Hula-Hula membaca saran ini. Ya mau bagaimana lagi? Menguntit update status mantan bisa menjadi salah satu kecanduan yang tertanam di otak kita. Cuma, yang namanya kecanduan itu, kan, nggak baik, ya? Makanya, kamu harus siapkan pula rem agar kebiasaan itu nggak merusak kehidupan kamu pascaputus dengannya. Selayaknya orang yang kecanduan, kurangilah sebanyak demi sebanyak dosis stalking akun media sosial pacarmu itu. Kalau di hari pertama, kamu menghabiskan waktu delapan jam mengintip Facebook-nya, di hari kedua coba hanya tiga jam saja. Sst, kamu yang mengikuti langkah kelima (menghapus akunnya), kemungkinan besar tidak bisa stalking gara-gara akun sang mantan dikunci privasi. Untung banget, ya. Jadi, hasrat kepo bisa diredam. Bagi yang curang di langkah kelima, sih, hati-hati saja jangan sampai baper (terbawa perasaan) atau merasa terluka melihat Twitternya mensyen-mensyenan mesra dengan orang lain.
7. Cari rebound? Jangan, ah. Banyak yang bilang cara cepat melupakan mantan, ya dengan mencari yang baru. Apa iya? Emosi kamu saja masih naik turun bak roller coaster, masa iya kamu mau menyambar orang lain saat roller coaster masih melaju? Yang ada kalau nggak kamu yang terseret jatuh atau sang rebound yang bersimbah darah. Intinya, hubungan semacam ini lebih banyak memunculkan luka dan sakit hati ketimbang bahagianya. Pikirkan juga seandainya kamu adalah si rebound dan akhirnya tahu kalau dijadikan pelarian saja, pasti rasanya sangat sangat nggak enak. Nggak adil lho kalau kita mencoba mengatasi kesedihan kita dengan membuat orang lain sedih. Dan, ingat-ingat deh, sesuatu yang didasari dengan niat yang nggak baik, biasanya hasilnya juga mengecewakan.
8. Bergerak aktif. Jika ada yang menyangsikan kebahagiaan tidak bisa dicapai dengan menikmati waktu sendirian, mereka pasti nggak pernah bergerak aktif. Saat berolah raga, tubuh kita akan memicu hormon endorfin, hormon yang disebut-sebut salah satu pencetus kebahagiaan. Jadi, ketimbang menangis semalam atau berdandan lalu selfie cuma untuk menunjukkan sang mantan, "Hey, aku cantik nih", lebih baik pakai sepatu dan lari ke mana saja (hindari sepanjang jalan kenangan kalau itu membuatmu mewek seharian). Pilih saja kegiatan yang memerlukan gerak aktif favoritmu! Jadi, buang jauh-jauh opsi mendengarkan musik (apalagi lagu cinta kenangan) atau menonton film drama romantis memilukan atau membaca novel cinta mengharukan. Sebaliknya, daftar klub kebugaran atau sambangi kolam renang dekat rumah kamu. Semakin kamu aktif, semakin kamu nggak punya waktu kosong untuk memikirkan atau melamunkan kenangan-kenangan bersama mantan. Lambat laun, dia pun memudar sedangkan kamu sibuk dengan bergaul dengan teman-teman baru dari kegiatan aktifmu yang baru. Sst, ketika kamu sudah siap untuk membuka hati, siapa tahu kekasih sejati kamu ternyata ada di antara mereka?
Posted by aksaralava at 12:20 AM 0 comments
Inside Out: Semua Jenis Emosi Itu Ada Manfaatnya.
| Inside Out dari Disney Pixar |
Peringatan: Jika kamu belum menonton filmnya, sebaiknya berhenti, karena tulisan ini mengandung spoiler.
Sudah sejak lama saya ingin menonton film animasi yang berasal dari kreator yang sama dengan film Up tersebut. Tapi, karena kesibukan, baru kesampaian akhir-akhir ini. Film ini mengisahkan kesibukan Joy, Anger, Fear, Disgust, dan Sadness dalam mengelola emosi dan perasaan seorang anak perempuan bernama Riley. Joy menjadi semacam pemimpin bagi perasaan-perasaan yang lain. Tak heran, kalau ekspresi senang itu lebih memilih membentuk Riley menjadi pribadi yang bahagia. Setiap emosi negatif menyeruak di kepala Riley, Joy akan mencari cara agar perasaan itu berganti dengan kegembiraan semata. Dengan konsep #teamhappy ini, tak ada tempat bagi Sadness. Joy bahkan menciptakan lingkaran kecil "Sadness' Circle" agar emosi yang dianggap tidak berguna itu tetap berada di lingkaran itu sehingga tidak mengganggu misi #teamhappy. Akan tetapi, Sadness punya rasa ingin tahu yang besar. Ia memegang bongkahan memori inti dan mengakibatkan memori itu berubah warna menjadi biru yang melambangkan kesedihan. Joy yang tak rela Riley menyimpan memori kesedihan pun mencegahnya. Namun, emosi yang selalu ceria itu justru tersedot keluar dari markas besar bersama dengan Sadness. Dimulailah petualangan Joy dan Sadness untuk mencari jalan pulang.
Berapa orang di sini yang menginginkan perasaan "Selalu Bahagia"? Dijahati teman, cukup dijawab "It's okay. Aku tetap bahagia!" Kehilangan uang, "Ah, itu berarti aku akan dapat gantinya seribu kali lipat!" Apapun kondisinya, selalu tersenyum, selalu ceria. Selalu Bahagia!
Saya tidak seperti itu. Saya marah ketika mendapati orang merokok di tempat umum dan meracuni kaum bukan perokok. Saya menggerutu kepada mereka yang membuang sampah sembarangan. Saya sedih jika cerpen yang saya kirimkan untuk lomba, boro-boro menang, dilirik pun rasa-rasanya tidak. Saya berdebar ketakutan tatkala harus berbicara di depan umum. Saya jijik dengan jengkol dan petai. Dan sering sekali saya membiarkan emosi-emosi (yang dianggap negatif itu) mengambil alih. Tidak ditutupi. Tidak disembunyikan. Bahkan, suatu kali saya pernah diejek sebagai si penggerutu. Hahaha.
Sungguh berbeda dengan misi Joy dalam kepala Riley: apapun yang terjadi, harus happy happy joy joy. Namun, dalam petualangannya mencari jalan pulang bersama Sadness, Joy justru belajar bahwa emosi kesedihan itu pun ada manfaatnya. Tak jarang, ekspresi gembira yang ada di memori inti Riley justru didapatkan karena kemunculan Sadness. Contohnya, Joy hanya mengingat kegembiraan Riley dipeluk Mom dan Dad serta diangkat dan dielu-elukan oleh teman-teman grup hoki Riley. Padahal, di hari itu tim hoki Riley justru kalah. Sadness mengingat kekalahan itu sebagai hari yang paling menyenangkan. Ketika Riley bersedih, Mom dan Dad menghibur begitu pula teman-teman Riley sehingga akhirnya memori bahagia pun tercipta.
Menonton film ini, membuat saya senang. Akhirnya saya ada pendukungnya. Tak semuanya harus happy happy joy joy. Tak perlu menunjukkan "Selalu Bahagia" dan menumpuk emosi (yang dianggap negatif) lainnya di gudang emosi. Semua perasaan yang tercipta pada diri kita ada manfaatnya. Bahkan kesedihan sekalipun. Dari emosi (yang dianggap negatif itu), kita bisa mengambil pelajaran, menyurahkannya demi melegakan sesak di dada, sampai jadi pondasi kita untuk bangkit kembali menata hidup. Karena, berkat keberadaan kesedihan itulah kita tahu arti bahagia.
Posted by aksaralava at 1:31 AM 0 comments
Happy Birthday, Hilary Duff
Dari si lucu Wendy (Casper Meets Wendy),
| childstarlet.com |
lalu si manis Lizzie McGuire,
| fashionstyle.com |
| maxim.com |
Selamat ulang tahun, Hilary Duff
Posted by aksaralava at 5:19 PM 0 comments
7 Cara Meladeni Haters
Istilah pada judul di atas bisa jadi baru ngetren beberapa tahun
belakangan ini. Seiring era keterbukaan dan ramai-ramai menunjukkan jati
diri di media sosial. Lambat-laun, seseorang dianggap keren jika
populer di dunia maya itu. Penyanyi yang baru mencari tempat di industri
hiburan, aktor yang berakting jempolan namun belum cukup untuk
mendapatkan status bintang, komikus yang ingin memperluas jaringan,
sampai si bukan-siapa-siapa yang ingin terkenal saja (sumpah yang
terakhir ini bukan ngomongin Dijah Yellow, ya?). Semua tumpah ruah di
ranah media sosial. Hasilnya, jika ada yang suka akan menjadikan sosok
itu sebagai idola dan meraih kepopularitas (dunia maya) yang besar.
Istilah selebtwit, selebgram, dan selebor pun bermunculan. ;-)
Jika
ada yang menyukai tentu ada pula sebaliknya. Membenci. Karena sekarang
ini jamannya keterbukaan, rasa suka dan rasa benci terhadap seseidola
itu pun dengan bebas langsung tersampaikan. Layangkan saja unek-unek
terhadap idola kita itu. Poninya terlalu miring, katakan "Dasar otak
miring, poni juga ikut miring!" Tahi lalatnya mengganggu estetika foto
yang diunggah, tuliskan "Kebo betah banget brot di muka lo!" Mention saja di Twitter. Tag saja akun Instagramnya.
Nah,
mereka yang selalu melayangkan unek-unek inilah disebut haters. Di mata
mereka, tokoh terkenal yang mereka kritik itu tidak pernah benar.
Misalnya saja seorang aktor yang berubah penampilan dengan menumbuhkan
rambut di atas bibir. Langsung saja banyak komentar yang mengejek
penampilannya itu. Berkumis dibilang mirip teroris. Tapi, ketika klimis
dikatakan sok manis. Jadi, aku kudu piye? jerit hati seorang idola.
Beruntunglah
kamu para idola atau selebritas yang tidak sengaja mampir ke blog ini,
karena berikut cara-cara yang bisa kamu lakukan dalam menghadapi haters.
1. Tidak semua kritik yang disampaikan kepadamu adalah ungkapan kebencian. Jadi, jangan sedikit-sedikit menyudutkan kalau mereka haters.
Siapa tahu, mereka justru memberitahukan opini yang membantu
keberlangsungan kariermu. "Nyanyinya seperti suara burung gagak," begitu
komen di media sosialmu. Lalu, karena panas hati kamu langsung
membalas, "Kamu saja kalau kentut fals. Nggak usah ngomongin orang.
Dasar hater. Saya block kamu!" Jika mau, fokus saja kepada isi kritiknya. Kalau kamu bukan orang yang lapang dalam menerima kritik, lewatkan dan scroll saja komentar itu. Tidak usah dibaca.
2. Sampaikan maaf.
Di negeri tercinta kita ini, hampir semua urusan bisa selesai dengan
permohonan maaf (apalagi kalau diucapkan seseorang yang cantik atau
ganteng aduhai). Kamu salah mengartikan "Tut Wuri Handayani" dengan
"Walaupun berbeda-beda tapi satu jua", cukup meminta maaf saja. Pasti
selesai, deh, urusannya. Tapi, kalau tidak mau mengaku salah dan mohon
maaf? Lalu, defensif dengan mengatakan, "Sama saja kok artinya!"?
Tenang, kamu masih bisa cengar-cengir gembira, kok. Saatnya mengerahkan pasukan penggemar alias fan militan untuk membelamu!
3. Membalas haters dan memojokkannya? Salah besar! Okelah, haters
memang salah dalam hal penyampaian. Mungkin dari cara menata kalimatnya
yang bikin kamu emosi atau di saat membaca komentar tersebut, kamu
memang lagi sensitif. Tapi, kalau kamu terpancing emosi membalasnya dengan kalimat yang lebih kasar, waduh. Bisa-bisa justru kamu yang dinobatkan menjadi hater-nya hater.
Merendahkan kasta idola atau selebritas, dong. Kalau rakyat jelata
(baca: penggemar) mau foto bareng atau jabat tangan saja mesti bayar,
kok. Lah, ini selebritasnya malah jadi hater orang biasa. Apa kata duniaaa?
4. Tuntutlah hater sampai dipenjara.
Benar. Tanggung banget kalau berbalas pantun di media sosial. Sebagai
artis atau selebritas papan seterikaan, tunjukkan kalau kamu itu hebat
dan kuat karena minum Milo setiap hari (kalau merk yang saya sebutkan
ini hendak mengucapkan terima kasih, saya akan kirim nomor rekening
saya, ya :-p). Bukan hanya akting saja yang perlu totalitas, memburu
hater juga harus. Kudu! Telusuri media sosial hater itu. Cari
tahu kontaknya. Di mana rumahnya? Sekolahnya kelas berapa? Apa pekerjaan
bapak ibunya? Masih lajang atau sudah bercucu segudang? (Penting!).
Nah, kalau sudah dapat, umumkan ke seluruh dunia! "Ini lho si hater.
Mukanya jelek. Rumahnya gubug. Orangtuanya kere!" Eits, biar tetap
dianggap makhluk baik hati yang berhati seputih cat tembok Dulux (nomor
rekening siap dikirimkan :-p), harus ditambahkan "Saya jadi tidak tega
mengajukan gugatan. Saya kasihan kepada orangtuanya." Sst, jangan lupa
minta para wartawan meliput dan memberitakan kejadian ini, ya.
5. Bercerminlah. Maksud saya, bukan introspeksi atau merenung, melainkan benar-benar bercermin. Tatap pantulan wajahmu di cermin dan tanyakan, "Cermin cermin di dinding, siapa di dunia ini yang paling cantik
dan memesona?" Niscaya cermin akan menjawab, "Cuma kamu seorang, wahai
artis/idola/seleb kesayangan. Kalau ada yang bilang sebaliknya, itu
berarti mereka sirik dan dengki!" Lalu, jawaban cermin yang ketakutan
dipecahkan itupun (walau bagaimana pun dia hanya cermin kalau jawab yang
lain, pasti tamat riwayatnya), jadikan itu patokanmu dalam membalas hater.
Ada yang berkomentar, "Kakak, warna rambutnya kurang rata" balas saja
dengan, "Saya ini cantik. Mau rambut belang bonteng juga tetap kece.
Memangnya kamu? Jelek dari lahir!" Kalau masih ada yang menyahut, "Tapi, kan, jadi kelihatan kusam. Perlu di-retouch kali, Kak," kasih serangan lanjutan, "Sirik saja kamu. Dengki kok dipelihara!" lalu block saja akunnya agar tidak bisa kasih komentar lagi.
6. Gunakan jasa admin. Para selebritas, kamu harus sadar diri.
Pekerjaan utama kamu adalah penyanyi/aktor/komikus/penjual buah nan
ganteng/mbok pecel yang cantik ala Cam 360-nya nggak ketulungan/dll.
Jadi, wajar-wajar saja kalau kamu tidak piawai menghadapi "mulut-mulut"
yang berteriak di Twitter, "tangan-tangan" yang mencolek di Instagram,
atau bahkan mantan komentator pertandingan sepak bola yang kehilangan
pekerjaan setelah PSSI dibekukan. Tidak perlu malu apabila menyewa jasa
administator yang mengelola akun media sosialmu. Malah, kamu justru
terbantu, lho. Admin bisa menyeleksi kritik atau opini yang akan kamu
dengar. Tentunya sudah disensor sehingga bebas dari kata-kata yang
kurang mengenakkan. Jika kamu mengizinkan, admin sesekali bisa
diperintahkan membalas komentar dengan kalimat standar customer service, "Maaf atas ketidaknyamanannya" atau "Terima kasih atas masukannya".
7. Tidak usah punya akun media sosial.
Kalau kamu penyanyi, biarkan label atau manajemen yang mengurus promosi
hasil-hasil karyamu. Begitupun jika kamu aktor. Buat si penjual buah
ganteng, ya mungkin buahnya disuruh mengabarkan ke seluruh dunia tentang
kegantenganmu itu. Istilah bekennya, sih, biarkan kemampuan atau
karyamu yang menonjol. Yang membuatmu dibicarakan. Bukan keahlianmu twit war dengan selebritas lain atau kecanggihan telepon pintarmu yang memiliki aplikasi Bantai Haters.
Intinya, meladeni haters itu tidak perlu ikutan panas hati. Santai saja sekalem
kamu senyum-senyum merasa bangga ketika membaca puja-puji
dari para penggemar garis keras. Maklumi saja, kalau ada penggemar yang
berlebihan dalam mengekspresikan kesukaannya terhadapmu, tentu ada saja
hater yang juga berlebihan mengungkapkan opininya. Semangat ya, saaay!
Posted by aksaralava at 3:02 AM 0 comments
Hey, It's OK to Talk About Depression
Tadi malam, saya membaca Majalah Glamour Edisi Desember 2014. Tulisan di Rubrik G Reality majalah itu sangat menyentuh. Seorang pembaca mengisahkan musibah yang terjadi kepada ayah dan adiknya dari sudut pandangnya sendiri. November 2013 lalu, Gus Deeds tiba-tiba menikam ayahnya dan kemudian bunuh diri. Untuk lebih jelasnya, bisa dibaca di sini atau mencari beritanya lewat situs pencarian Google.
Bagaimana mungkin, seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang berniat membunuh ayahnya sendiri? Dari penuturan Rebecca di majalah tersebut, penyebab perilaku Gus ada kaitannya dengan kesehatan mental. Adiknya itu telah didiagnosa menderita Bipolar Disorder, tiga tahun sebelum peristiwa memilukan itu terjadi. Namun, Gus adalah orang dewasa, dan menurut hukum, keluarga tidak akan diberitahu urusan pribadi berkaitan dengan kesehatan itu apabila tidak diinginkan oleh sang pasien. Hubungan Rebecca dengan adiknya pun memburuk karena Gus tidak menjawab teleponnya dan menolak berkomunikasi. Sayangnya, pada saat itu Rebecca tidak menyadari bahwa yang dilakukan adiknya adalah menarik diri karena telah menyerah kalah.
"Now I know he was trying to push me away so he could give up on himself, but at the time it was devastating."Saya sedikit mengerti dengan apa yang dikisahkan oleh Rebecca di majalah itu. Sebagai anggota keluarga yang selama ini melihat adiknya baik-baik saja (anak yang aktif, pergaulan luas, selalu ceria, dan senang bercanda), mungkin beliau tidak menyangka bahwa adiknya merasa menderita di dalam hati. Lalu, kenapa seseorang yang terlihat gembira itu justru didiagnosa dengan penyakit kejiwaan?
Saya tidak tahu dengan pasti jawabannya karena saya bukan psikiater ataupun sang ahli.
Namun, membaca artikel itu membuat saya tersadar. Terbangun dari kenyataan bahwa semua orang dalam masyarakat kita tidak baik-baik saja. Ada teman di luar sana yang terlihat ceria, namun menyimpan kedukaan dan kekosongan dalam hatinya. Ada kenalan yang bersembunyi di balik topeng kebahagiaan agar tidak dianggap rendah oleh masyarakat. Tidak digunjingkan, tidak dicibir, atau dipermalukan. Ada anggota famili yang berteriak meminta tolong tapi kita abaikan hanya karena tak mau dicap abnormal. Tak sudi satu keluarga dengan orang gila.
Depresi. Sebuah kondisi psikologis yang erat kaitannya dengan kesedihan dan perasaan kosong melompong pada kejiwaan kita. Lebih lanjut tentang depresi bisa dibaca di sini. Sering sekali kita surukkan ke bagian belakang hati kita. Bukan untuk diperkecil tapi hanya disembunyikan jangan sampai orang lain menemukannya. Akan tetapi, sebongkah depresi itu bukannya semakin menghilang namun perlahan-lahan tumbuh lalu memenuhi ruang hati kita. Mengikis rasa bahagia.
Pada satu kolom kecil di Majalah Glamour yang saya baca itu, ada tulisan yang mengajak pembacanya untuk sama-sama menanggulangi depresi atau kesehatan mental lainnya. Yuk, kita bercerita. Kita ungkapkan kegelisahan kita. Tidak apa-apa, lho, membicarakan tentang depresi ini. Kita tidak akan dicap tidak normal. Tidak akan dianggap gila. Dan tidak akan ada pandangan meremehkan dari masyarakat. Ada nomor online yang bisa dihubungi. Ada kontak tenaga ahli (psikiater, psikolog, dll) yang akan membantu. Mari saling menjaga satu sama lain, karena semua orang berhak bahagia.
Posted by aksaralava at 6:04 PM 0 comments
Fans Militan
Fans militan adalah sebutan yang saya berikan kepada penggemar yang begitu membabi-buta mengidolakan seseorang; biasanya penyanyi/artis/TV personality, dan semacamnya. Jika artis idolanya dikritik penampilannya (meskipun dengan bahasa halus dan sopan), fans militan ini akan berbalik mengolok-olok di pemberi kritik. Ya, benar. Bukannya mengajukan argumen bantahan (atas kritik seputar karya/hasil kerja artis tersebut, sang fans militan justru mengolok-olok dan merundung personal si pemberi kritik. Oh ya, biasanya, fans militan ini eksis dan bergerilya di media sosial.
Tadinya, saya pikir fans militan hanya dipunyai satu-satunya oleh Agnes Monica. Ternyata, artis Indonesia lain pun banyak fans militannya. Bukan hanya artis papan atas atau sekuter, satu kelompok (belum menyandang status sebagai) penyanyi seperti Jebe & Petty pun punya fans militan. Ha...ha...ha.
Jadi, begini. Saya sebagai pencinta musik, tentu saja ingin mengetahui berita terkini tentang musik. Berhubung, sekarang ini yang lagi menyedot perhatian adalah penyelenggaraan X Factor 2, tentu saja saya sesekali mengikutinya. Saya tidak menonton secara langsung karena saya tidak mau mengambil bagian dalam memberikan rating tinggi terhadap televisi yang visi misinya tidak sesuai dengan prinsip idealis saya. Tapi, sesekali saya mengikuti perkembangannya lewat Youtube.
Waktu itu,entah penampilan minggu keberapa di X Factor, Jebe & Petty menyanyikan lagu Uptown Funk-nya Mark Ronson feat. Bruno Mars. Menyaksikannya, secara spontan saya berkomentar apa yang mengganjal di benak (tentu dibatasi tentang penampilan si artis, tidak lebih dari itu) di kolom komentar Youtube. Antara lain, menurut saya permainan drum Jebe adalah penampilan usus buntu. Bahwa jika sesi permainan drum itu dihilangkan, tidak berpengaruh apa-apa terhadap penampilannya. Lain halnya, jika sesi bermain itu mengawali intro lagu Uptown Funk, setidaknya menyatu dengan musiknya dan tidak terpotong begitu saja (meskipun dalam durasi yang singkat). Saya juga mengkritik musik DJ yang sangat tidak uptown funk. Begitupun tempo yang kejar-kejaran antara menyanyi dan musiknya. Belum lagi ekspektasi tinggi seputar koreografi yang digembar-gemborkan di awal video perkenalan. Saya menyangka Jebe & Petty akan melakukan dance rutin uptown funk. Ternyata tidak sama sekali.
Saya pikir, komentar itu akan direnungkan. Dan jika ada yang tidak setuju, bisa berargumen secara sehat. Misalnya dengan mengatakan, "Permainan drum itu pertanda Jebe mau belajar dan menampilkan kemampuannya yang lain selain bernyanyi" atau semacam itulah. Intinya terkait dengan artis dan penampilannya saat itu saja. Eh, ternyata ada penggemar yang tidak terima idolanya dikritik sedemikian. Mereka balas mengata-ngatai saya. Menyuruh saya mencuci piring (tentu sebagai asumsi saya adalah pembantu rumah tangga). Ada lagi yang mengatakan saya tidak usah banyak komentar karena saya nonton gratis. Dan lain sebagainya yang lucu-lucu.
Keberadaan fans militan ini memang mewarnai industri hiburan. Saya yakin, para artis itu sebenarnya sebel-sebel bangga dengan adanya mereka. Coba, siapa yang tidak senang ada orang-orang yang setiap saat memuji-muji dirimu? Tapi ingat, pujian yang memabukkan itu biasanya yang menjatuhkan dan bikin terkapar. Kalau sudah begitu, bisa-bisa fans militan hanya berkomentar, "Wah, kakak jatuhnya keren banget. Penuh penghayatan. Jatuh terus begitu saja, Kak!" tanpa berusaha menolongmu bangkit dari keterpurukan.
Posted by aksaralava at 6:01 PM 0 comments