Indonesia sedang berduka karena kasus Engeline. Sekilas kronologinya bisa dibaca di sini.
Tragedi tewasnya Engeline membuka mata berbagai pihak akan rentannya keselamatan anak-anak di negara ini. Bukan hanya yang disebabkan oleh orang luar, melainkan juga oleh keluarga dekat sang anak. Miris. Anak kecil dihadirkan oleh orangtuanya di dunia ini hanya untuk disia-siakan. Shame on you, para orangtua!
Berbicara tentang hubungan anak-anak dan orangtua, saya akui saya memang memiliki pandangan yang ekstrem dibandingkan yang lain. Apabila sang anak tidak tumbuh dan berkembang dengan baik, saya pasti acungkan jari pertama kepada orangtua. Sesimpel seorang ibu menyuruh anak pertamanya yang SD untuk menjaga adiknya yang balita terus-terusan, saya sudah berpendapat itu salah. Ya, saya akui memang ekstrem. Itu karena saya beranggapan orangtua adalah makhluk dewasa yang seharusnya berpikir masak-masak sebelum menghadirkan seorang nyawa baru di dunia ini. Siapa yang merawat? Bagaimana pendidikannya? Seperti apa pola pengasuhannya? Dan masih banyak pertanyaan lagi yang seharusnya sudah ada jawaban dan rencana sebelum makhluk kecil tersebut lahir ke dunia.
Kenyataannya, tidak semua orangtua berpikir masak-masak. Coba saja, tanya kepada diri sendiri dulu: Apa alasan Anda ingin punya anak? Agar rumah tidak sepi? Seolah-olah anak adalah barang atau hewan peliharaan yang memenuhi kediaman. Agar ada yang merawat ketika sudah beranjak tua? Seolah-olah anak sudah disiapkan untuk memastikan sang orangtua hidup nyaman. Untuk mengingat kesetiaan suami? Seakan-akan, anak kecil menjadi posisi tawar agar suami tidak menceraikan. Karena sudah ditanya-tanya oleh mertua? Hah. Konyol bukan? Semua itu menurut saya, adalah alasan dangkal yang seharusnya bukan menjadi tujuan utama seseorang untuk memiliki anak, menghadirkan makhluk baru tanpa dosa di dunia ini.
Seterusnya, apakah Anda memikirkan bagaimana perawatan sang anak tersebut? Anak bukanlah barang yang jika rusak bisa simpan di gudang. Merawat anak adalah komitmen seumur hidup. Tak boleh berhenti. Tak boleh lengah. Jika berencana sang anak harus hidup mandiri di usia 18, bagaimana perilaku orangtua sebelum itu agar si anak benar-benar mandiri di usia yang dimaksud? Pola asuh seperti apa yang digunakan? Pembelaan "Dipikirkan saja nanti" bukan jawaban. Seorang anak tidak meminta dilahirkan. Tidak memaksa sang orangtua untuk menghadirkannya ke dunia ini. Namun, ketika memasuki dunia yang kejam ini, sang anak justru diabaikan dan ditelantarkan. Shame on you, para orangtua!
Ya, ya, salahkan nasib padahal sebenarnya keputusan adalah di tangan para orangtua. Jika tidak sanggup membesarkan anak dengan baik, ya jangan punya anak. Sesederhana itu. Jika alasan-alasan "Tapi nanti rumah sepi." atau "Apa kata mertua nanti?" atau "Siapa yang merawat kami kelak?" menyeruak di kepala, patahkan dengan pertanyaan penting. "Sanggupkah Anda membesarkan dan merawatnya dengan baik?" Jika jawabannya ya, segalanya tak perlu dipertanyakan. Rumah tak lagi sepi dengan kehadiran bocah mungil dan sebagainya, itu semata-mata adalah efek positif, bukan merupakan tujuan.
Maafkan apabila saya terlalu keras menuding orangtua. Saya hanya gemas membaca bagaimana orangtua kandung Engeline segampang itu menyerahkan anaknya. Menuding keadaan. Benar-benar olok-olok! Dia pernah hamil dan tahu tidak bisa mengurusnya. Anak pertama diserahkan ke orang lain (meskipun keluarga dekat). Dengan keadaan sebelumnya itu, dia bertekad untuk hamil lagi? Setelah Engeline, dia juga melahirkan sampai anak keempat? Bagaimana bisa menyalahkan keadaan tak punya uang tapi tetap menghadirkan manusia lain di dunia ini? Ayolah, Anda bisa tidak hamil. Tidak melahirkan. Atau bahkan tidak berhubungan intim. Banyak cara. Tapi, tolonglah. Jangan berani punya anak kalau tidak punya rencana atau strategi agar anak tersebut sukses di masa depannya. Benar-benar jangan!
Jangan Punya Anak!
Posted by aksaralava at 6:51 PM 0 comments
Ngomongin Orang
Seorang teman curhat. Katanya dia sebal karena diomongin di belakang sama salah seorang kenalannya (kalau tidak mau menyebut orang itu sebagai teman). Dengan berapi-api, dia ungkapkan kekecewaan. Betapa dia tidak menyangka akan menjadi korban kejahatan 'temannya' itu.
Saya pernah berada dalam posisi teman saya itu. Tapi, saya juga pernah berada dalam posisi yang ngomongin orang lain. Menurut saya, manusia memang tidak lepas dari saling menggunjingi sesamanya. Masalah kadar dan caranya, tentu masing-masing berbeda. Itu tak terelakkan karena manusia adalah makhluk sosial. Mereka tumbuh dan bersosialisasi. Mereka akan memperbincangkan apapun kepada lawan bicara; ide, rencana, sampai... ya perihal orang lain.
Oleh sebab itu, masalah ngomongin orang tidak pernah saya tanggapi serius. Bagi saya, selama tidak mengancam keselamatan atau mengganggu kestabilan finansial, silakan saja menjadikan saya obyek omongan.
Posted by aksaralava at 6:35 PM 0 comments
Malam Natal = Tenang Tanpa Petasan
Masih ingat postingan ini?
Dengan kekhawatiran bahwa bakal ada beberapa pihak yang terlalu antusias merayakan hari besar keagamaan, saya sudah menyiapkan hati untuk menerima hingar bingar petasan. Tapi, di malam Natal tanggal 24 Desember dan keesokan harinya di tanggal 25 Desember, tak ada suara keributan terdengar. Mereka merayakannya dengan khusuk di gereja atau di rumah masing-masing, merenung, dan bersyukur akan nikmat yang telah diterima di bumi. Tanpa hiruk-pikuk petasan. Saya sangat senang.
Aman. Damai. Malam Natal menjadi identik dengan dua kata itu. Tak ada teror keributan oleh suara petasan. Tak ada remaja iseng yang melempar bubuk penyebab suara menggelegar sembarangan ketika saya berjalan kaki di luar rumah. Tak ada tetangga-tetangga bodoh yang menyalakan petasan dengan berlindung di balik kata "merayakan kemenangan". Ketenangan malam itu sangat menyenangkan.
Posted by aksaralava at 7:55 PM 0 comments
Barney and Friends
Posted by aksaralava at 2:00 AM 0 comments
Malam Lebaran = Malam Paling Menakutkan
Buat saya, ya.
Tidak tahu persisnya sejak kapan, tapi berulang kali malam Lebaran dilewatkan banyak orang dengan menyalakan petasan. Bukan hanya sekadar kembang api yang berdesis dan bersinar-sinar ketika dinyalakan. Tapi dentuman sekeras meriam yang membuat orang lain meradang.
Petasan itu dinyalakan di sembarang tempat. Saya pernah mengalami sedang berjalan kaki pun, seseorang tak dikenal melemparkan petasan ke arah saya. Kejadian itu membuat saya tak berani lagi berjalan-jalan ke luar rumah setelah buka puasa di hari terakhir Ramadhan.
Tapi apakah tinggal di rumah berarti aman, nyaman, dan damai? Tentu saja tidak. Tetangga-tetangga bodoh seenaknya menyalakan petasan. Paling keras, itulah yang dianggap menang. Ketika disampaikan keberatan, sikap defensif, "Kalau tidak suka pindah saja dari kampung sini" menjadi tameng dan pembenaran sikap mereka. Jalan buntu. Bisa dibilang seperti itu. Petasan tetap berteriak di mana-mana sampai lewat tengah malam. Tak ada malam senyap yang dimanfaatkan untuk merenung. Tak ada ibadah malam yang khusyuk menjelang berakhirnya Ramadhan.
Setiap malam Lebaran pun menjadi malam yang menakutkan. Tak tahu kapan teror petasan itu akan berhenti. Tak mengerti kapan serangan yang mengagetkan itu berakhir. Tak bisa ke mana-mana karena di jalanan pun mereka menyerang dan tidak terkena hukuman. Alasannya: merayakan kemenangan.
Jika perayaan kemenangan menimbulkan teror dan ketakutan kepada sesama manusia lainnya, apakah masih pantas disematkan pita kemenangan kepada si pembuat teror dan penebar ketakutan?
Posted by aksaralava at 8:55 PM 0 comments
Bangga Berbuat Dosa
Aku memang tidak lagi rutin menonton televisi, baik lokal maupun kabel. Aku lupa sejak kapan tepatnya. Yang jelas, aku tidak menyediakan fasilitas itu di tempat tinggalku. Paling-paling, aku menonton tayangan lokal sekilas ketika bertandang di rumah makan langganan atau ketika mengunjungi teman.
Dari beberapa kesempatan itu, ada kalanya program infotainment yang tersaji di depan mata. Satu hal yang menarik perhatianku adalah wawancara musisi AD dengan penyanyi WS di sebuah program bincang bintang. Dalam acara tersebut, AD mengatakan bahwa WS itu adalah ibu dari anaknya, S. Hal itu seakan menegaskan bahwa kedekatan AD dengan WS yang sebelumnya disangka-sangka sebagai sebuah perselingkuhan adalah benar adanya. Ditambah status keduanya yang tidak jelas karena di berbagai tayangan infotainment, titel WS tertulis sebagai istri siri AD. Di lain waktu, seorang pengacara bernama FA ditunjukkan sedang bermesra-mesraan dengan perempuan yang bukan istrinya saat itu, ND. Dari berita politik, ada tayangan SB bagi-bagi uang saat kampanye.
Meski dengan berita yang berlainan, benang merah ketiga contoh di atas sama. Ketiganya sama-sama bangga berbuat dosa. Media pun ikut-ikutan bangga menampilkan si pendosa. AD dinarasikan sebagai musisi jenius, pria yang bertanggung jawab, serta bapak yang baik dan bisa diandalkan. Padahal, musisi yang jenius itu tak lagi dahsyat berkarya dan terjebak dengan masterpiece karya masa lalunya. Padahal, pria yang dikatakan bertanggung jawab itu bukan hanya menceraikan istri pertamanya, tapi memisahkan ibu dari ketiga jagoannya itu dari anak-anaknya. Sedangkan definisi bapak yang baik sangat perlu pembuktian lebih jauh karena anak-anaknya justru tidak terjamin pendidikannya (bukan karena faktor ekonomi, tapi karena kesibukan pekerjaan sang anak-anak).
Ada apa dengan masyarakat sekarang? Seakan-akan, kita berlomba-lomba mengejar dosa. Laki-laki yang tidak bisa setia dengan satu orang wanita, dianggap perkasa. Wanita yang bisa membuat pria beristri berpaling kepadanya, ditasbihkan sebagai pemenang. Orang yang menyuap disebut pemimpin baik hati. Beberapa media pun tak malu-malu mengubur dosa si pendosa ini dengan menampilkan mereka tanpa cela, memutar-balikkan fakta, menyanjung seakan-akan berbuat dosa itu dibenarkan dan sudah biasa.
Mereka lupa bahwa (dikutip dari sini) "“Every journalist—from the newsroom to the boardroom—must have a personal sense of ethics and responsibility—a moral compass."
Posted by aksaralava at 11:35 PM 0 comments
Kekerasan di Sekolah
Lihat, tanggal berapa post sebelum ini diterbitkan? Ya, rasa malas untuk menulis di blog ini kembali menjangkitiku. Bukan karena terlalu sibuk atau waktu yang sempit, melainkan karena aku memang sama sekali nggak tahu hendak menuangkan cerita apa di sini. Padahal, di Indonesia sendiri sedang terjadi banyak peristiwa yang mengundang komentar. Salah satunya adalah tentang kekerasan di dalam lingkungan sekolah.
Renggo Khadafi (11 tahun) tewas karena dipukuli dan dianiaya oleh kakak kelas. Penyebabnya tampak sepele. Renggo menyenggol pelaku penganiayaan sehingga esnya terjatuh. Renggo sudah meminta maaf dan mengganti es. Namun, pelaku tidak terima dan melampiaskan amarah dengan membabi buta. Kronologisnya aku kutip dari sini. Di belahan Indonesia lain, seorang guru menganiaya muridnya dengan potongan asbes. Beritanya langsung di klik saja.
Menyedihkan, ya? Kalau ternyata akar kekerasan yang selama ini menumpuk dan berkembang pada masyarakat ternyata bibitnya dari sekolah. Bayangkan, orangtua yang selama kira-kira 7 tahun pertama kehidupan anaknya membesarkan sang anak dengan santun dan penuh kelembutan. Tapi, ketika memasuki usia sekolah, didikan itu bisa saja menghilang digantikan 'budaya' kekerasan yang ditanamkan oleh sekolah. Menyedihkan.
Aku sendiri sejak dulu nggak pernah suka dengan yang namanya sekolah. Ya, aku memang datang ke lembaga pendidikan itu dan meraih nilai bagus setiap tahunnya. Tapi, aku pikir itu karena terpaksa. Bahwa tugas anak-anak itu ya sekolah. Bahwa pergi ke sekolah adalah keharusan. Bahwa anak-anak harus memperoleh nilai bagus karena kalau tidak, ya nggak akan disayang keluarga. Padahal, kalau mau jujur, ada beberapa kasus kekerasan yang juga aku alami selama bersekolah. Kasus itu mengendap karena sekolah sangat pintar untuk mengintimidasi bahwa kejadian itu tidak boleh dilaporkan ke rumah atau orangtua. Bahwa bila orangtua tahu justru mereka akan sedih karena itu berarti anaknya nakal. Dahulu, aku menganggap jika sampai orangtua datang ke sekolah, itu berarti sang anak nakal dan memiliki masalah.
Baiklah, mari aku ceritakan satu kasus kekerasan yang aku alami dan sampai sekarang tak terlupakan. Waktu SD, aku kehilangan buku. Singkat cerita, ketika diharuskan berganti teman semeja, aku duduk di samping si pencuri buku itu. Karena bukuku itu hilang, aku minta berbagi membaca buku itu saat pelajaran yang memerlukan buku itu. Ternyata, pas aku bolak-balik, aku yakin itu bukuku yang hilang. Aku bilang kalau itu bukuku. Tapi, si pencuri berkilah semua buku penampakannya sama dan itu bukan berarti bukunya adalah bukuku.
Di rumah, aku pun bercerita kepada orangtuaku kalau aku pikir bukuku dicuri. Lalu, orangtuaku datang ke sekolah. Namun, sekolah bukannya mempertemukan aku beserta orangtuaku dengan si pencuri buku dan orangtuanya. Setelah orangtuaku pulang, Kepala Sekolah memanggilku dan si pencuri buku secara bersamaan. Kepala Sekolah meragukan bukti bahwa buku itu memang bukuku. Aku tunjukkan saja kalau tulisan di beberapa lembar buku itu sama dengan contoh tulisanku, sedangkan tulisan si pencuri sangat jelek dan tidak terbaca. Lebih meyakinkan lagi, ada namaku tertulis di halaman depan buku. Walaupun, sudah dicoret tapi masih terbaca dari sela-sela coretan itu. Kepala Sekolah menasihati si pencuri buku untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya, lalu meminta buku itu. Melihat buku yang dipegang Kepala Sekolah, aku senang karena akhirnya aku pikir bukuku bisa kembali. Tapi, apa yang terjadi? Kepala Sekolah malah menamparku dengan buku itu tanpa peringatan. Lalu, ia belum puas. Dengan tangannya sendiri ia kembali menamparku. Keras. Pipiku merah. Dan air mata bercucuran karena tak bisa kutahan. Aku masih ingat dengan jelas apa kalimatnya saat itu. Bahwa seharusnya aku tidak perlu mengadu bila menemukan masalah di sekolah. Bahwa seharusnya aku diam saja. Bahwa tidak akan ada yang mau berteman dengan anak pengadu seperti aku.
Lihat, kan? Bukannya mendapat keadilan, seorang korban malah diadili. Lebih parah lagi, kejadian itu berlangsung di tengah-tengah lapangan sekolah karena sewaktu itu Kepala Sekolah sedang patroli mengawasi anak-anak bermain. Efek dari kejadian itu tentu saja aku sangat membenci sekolah. Aku takut dengan guru-guru dan sampai sekarang aku menganggap guru adalah profesi paling hina. Sekolah bukan tempat yang aman. Kekuasaan yang dimiliki para guru bisa disalahgunakan. Anak-anak kecil seperti saya dulu yang menganggap guru adalah figur yang tak terbantah hanya bisa diam saja dan menyembunyikan peristiwa itu. Betapa gampangnya guru mengintimidasi dan memanipulasi semua kejadian adalah kesalahan murid semata. Trauma itu mengendap tidak menguap. Contoh dari peristiwa yang aku alami saja, aku jadi tidak percaya diri, menutup diri, dan tidak berani mengemukakan pendapat di depan orang yang wewenangnya lebih tinggi.
Sudahlah, jika sekolah kita masih toleran dengan kekerasan, apapun bentuknya, sekolah dibubarkan saja. Pendidikan memang perlu. Tapi, apabila proses transfer ilmu dijalankan dengan 'budaya' kekerasan, bukan tidak mungkin melahirkan generasi yang 'berkomunikasi' melalui kekerasan semata. Kalau sudah begitu, apa manfaatnya kecerdasan tinggi jika tidak diimbangi akhlak yang berbudi?
Posted by aksaralava at 12:57 AM 0 comments
